BERITA

Tahan Guncangan Pandemi Covid-19, Produksi Padi Sukoharjo Meningkat 30.000 Ton

29 Januari 2021

Tahan Guncangan Pandemi Covid-19, Produksi Padi Sukoharjo Meningkat 30.000 Ton

Produksi padi terutama gabah kering giling Kabupaten Sukoharjo pada 2020 meningkat sekitar 30.000 ton daripada 2019. Pada 2020, lahan pertanian Kabupaten Makmur menghasilkan 370.305 ton gabah kering giling.

Sedangkan pada 2019 hanya sebanyak 339.445 ton gabah kering giling. Peningkatan produksi padi selama 2020 membuktikan sektor pertanian tahan dari guncangan pandemi Covid-19 yang melanda dunia dalam 10 bulan terakhir.

Terlebih, Sukoharjo merupakan salah satu daerah lumbung padi Jawa Tengah. Pasokan air ke lahan pertanian nyaris tak ada kendala lantaran air dari Dam Colo mengalir ke saluran irigasi sebagian wilayah Sukoharjo.
Hanya organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti tikus dan wereng yang hingga sekarang masih menjadi persoalan dan mengancam produksi padi.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Dyah Rilawati, mengatakan produksi padi tak terdampak wabah pandemi Covid-19 sejak Maret 2020.

Tiga Kali Musim Tanam
Pertanian menjadi salah satu sektor yang tahan dari guncangan pandemi Covid-19. “Peningkatan produksi padi pada 2020 cukup signifikan daripada tahun sebelumnya. [Peningkatannya] Lebih dari 30.000 ton gabah kering giling pada masa pandemi Covid-19,” katanya, Kamis (28/1/2021).
Dyah menyebut lahan pertanian yang bisa panen selama 2020 seluas 47.967 hektare. Sebagian besar petani menanam padi tiga kali musim tanam (MT). Namun, sebagian petani lainnya membiarkan lahan pertanian tidak ditanami tanaman padi alias bera selama musim kemarau.

Pada 2021, target produksi padi Sukoharjo tak berbeda jauh daripada tahun lalu. Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai target produksi tanaman padi itu. Salah satunya dengan pendampingan para tenaga ahli pertanian.

Para petani akan mendapat dampingi tenaga ahli saat menerapkan inovasi-inovasi terbaru bidang pertanian guna menggenjot produktivitas tanaman padi.
“Kami juga memberikan bantuan berupa benih kualitas unggulan dan pupuk bersubsidi kepada gabungan kelompok tani [gapoktan]. Harapannya mampu mewujudkan surplus padi,” ujarnya.

Konsep Minapadi
Lebih jauh, Dyah mendorong agar para petani di Kabupaten Jamu menerapkan konsep minapadi yang berimplikasi positif terhadap produktivitas padi dan ikan. Penerapan konsep minapadi sangat menguntungkan bagi petani.

Mereka tak hanya memanen dan meningkatkan produksi padi Sukoharjo tapi juga mempunyai penghasilan tambahan dari panen ikan. Para petani menebar benih ikan nila saat awal masa tanam padi. Benih ikan nila itu dibudidaya selama hampir tiga bulan.
Sejauh ini, penerapan konsep minapadi baru oleh para petani Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari dan Desa Geneng, Kecamatan Gatak. “Keuntungan bagi petani sangat banyak. Biaya operasional petani dapat ditekan. Kotoran ikan mengandung unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah pada lahan pertanian,” papar Dyah.

Sementara itu, seorang petani asal Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kadyanto, meminta agar instansi terkait mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi ke para petani.

Para petani tak mempermasalahkan kenaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubdisi pada tahun ini. Mereka tetap membutuhkan pupuk bersubsidi kendati harganya naik sesuai kebijakan pemerintah.

 

sumber : https://www.solopos.com/tahan-guncangan-pandemi-covid-19-produksi-padi-sukoharjo-meningkat-30-000-ton-1104842

Share :