Asul Usul Desa Gonilan Kecamatan Kartasura

http://img.solopos.com/thumb/posts/2018/10/21/947345/asale-gonilan.JPG?w=600&h=400

Asal usul Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, erat hubungannya dengan sejarah penjajahan Kolonial Belanda selama 350 tahun. Lokasi Desa Gonilan tak begitu jauh dari pusat Kota Solo.

Bahkan sebagian wilayahnya secara administratif berbatasan langsung dengan Kota Bengawan. Konon, nama Desa Gonilan berasal dari bahasa Jawa yakni “gon” yang bermakna tempat serta “nilan” yang berarti penambangan.

Cerita rakyat asal usul Desa Gonilan berkaitan erat dengan seorang kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat bernama Kyai Honggo Nilo.

Kala itu, sebagian besar wilayah Desa Gonilan masih berupa hamparan tanah lapang dan semak belukar. Belum ada masyarakat yang mendirikan rumah di Desa Gonilan lantaran wilayah itu hanya ditumbuhi pohon-pohon tinggi dan besar.

“Rombongan Kyai Honggo Nilo berjalan kaki selama berhari-hari untuk mencari tanah yang subur. Saat itu, masih zaman penjajahan Kolonial Belanda,” kata seorang sesepuh Desa Gonilan, Suwiryo, Jumat (19/10/2018).

Mereka berjalan kaki puluhan kilometer menuju arah timur. Sesekali mereka beristirahat untuk melepas lelah dan menyantap bekal makanan dan minuman.

Rombongan itu lantas beristirahat di tanah lapang yang dikelilingi pohon rindang. Lantaran merasa betah, anggota rombongan termasuk Kyai Honggo Nilo membangun rumah di sekitar tanah lapang itu.

Lambat laun, warga lain juga membangun rumah di tanah lapang itu. “Saat itu, ada puluhan keluarga yang membangun rumah dan mendiami tanah lapang. Mereka sangat patuh terhadap Kyai Honggo Nilo,” ujar dia.

Beberapa tahun kemudian, Kyai Honggo Nilo dan warga mencoba menanam tarum atau nila. Nila merupakan salah satu jenis tanaman wajib ditanam saat pemberlakuan sistem tanam paksa oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Setelah bertahun-tahun menanam nila, warga setempat pun bisa menikmati hasil panen. “Dahulu, mayoritas wilayah Desa Gonilan penuh tanaman nila. Mayoritas penduduk mengandalkan budidaya tanaman nila sebagai mata pencaharian sehari-hari,” papar dia.

Melimpahnya produksi nila berimbas pada peningkatan kesejahteraan warga setempat. Mereka enggan menanam jenis tanaman lainnya untuk mendapat penghasilan.

Hingga sekarang masih ada beberapa bangunan yang digunakan saat memanen tanaman nila. “Bangunan itu berisi bak-bak penampungan air. Mungkin digunakan untuk menyimpan hasil panen,” kata Saryono, seorang warga setempat.

Share